7 Tokoh Sejarah Dunia Yang Pernah Alami Karantina

Bahkan sebelum peristiwa awal 2020 ini, konsep karantina atau mengasingkan diri - tinggal di rumah dan menghindari orang, terutama orang banyak, untuk membatasi penyebaran penyakit sebenarnya sudah ada ratusan tahun yang lalu.

Dalam sejarah, kota, negara, dan bahkan seluruh wilayah pernah diisolasi (secara paksa, dalam banyak kasus) sampai wabah tertentu berakhir. Dan beberapa orang yang terkena karantina ini adalah tokoh terkenal. Siapa sajakah mereka?

1. William Shakespeare menulis King Lear selama masa karantina

Inggris mengalami banyak kebangkitan wabah selama berabad-abad, termasuk satu wabah yang sangat mematikan pada tahun 1606, dan di tahun ini juga, puncak popularitas penulis drama William Shakespeare sedang produktif-produktifnya.

Epidemi ini membunuh dua atau tiga kali lipat, yang akhirnya menutup semua teater di tahun 1606, menurut The Guardian. Shakespeare masih cukup beruntung karena lingkungannya di London sebagian besar tidak tersentuh oleh wabah sampai akhir 1606, tetapi kemungkinan dia sudah mengisolasi diri sejak teater kota ditutup.

Para sejarawan berspekulasi bahwa di masa karantina, Shakespeare menulis King Lear, yang ditayangkan sebelum akhir 1606. King Lear, adalah beberapa drama Shakespeare yang paling gelap, dan jadi sangat mungkin ia menulisnya ketika wabah menyerang Inggris.

2. Isaac Newton menemukan kalkulus ketika masa karantina

Wabah Besar Inggris tahun 1665 adalah salah satu wabah pes besar terakhir di negara itu setelah berabad-abad penyakit ini muncul dan menghilang. Pada titik ini, Inggris sudah sangat akrab dengan wabah dan strategi untuk memberantasnya, salah satunya dengan menerapkan jarak sosial.
7 Tokoh Sejarah Dunia Yang Pernah Alami Karantina
Sama seperti sekolah pada tahun 2020, perguruan tinggi bersejarah pada waktu itu mengakhiri tahun-tahun sekolah lebih cepat dan memulangkan siswa untuk menunggu penyebaran penyakit, menurut Washington Post.

Seorang siswa muda Trinity College di Cambridge bernama Isaac Newton, yang saat itu berusia 20-an, harus pulang ke rumah keluarganya karena sekolahnya ditutup akibat wabah, di mana ia menghabiskan waktu satu tahun belajar sendirian. Walaupun begitu, Newton belajar secara mandiri dengan sangat baik.

Newton menulis makalah yang akhirnya menjadi penemuan kalkulus, bereksperimen dengan cahaya dan optik, dan juga mengamati sebuah apel jatuh dari pohon di halamannya, yang akhirnya menjadi teorinya tentang gravitasi. Newton kembali ke sekolah pada tahun 1667 dan karier akademiknya melejit. Karantina ternyata membuat beberapa orang menjadi produktif.

3. Edvard Munch menciptakan lukisan di tengah wabah flu spanyol

Edvard Munch terkenal karena melukis The Scream yang dianggap menyeramkan dan surealis, tetapi faktanya, Munch melukis banyak gambaran seram untuk menunjukkan perasaannya yang gelisa karena terisolasi.

Itu juga ada hubungannya dengan fakta bahwa, pada usia muda, ibu dan saudara perempuan Edvard meninggal karena TBC, menurut Artists Network. Saudarinya yang lain juga didiagnosis menderita penyakit mental, itu yang membuat Munch merasa terisolasi dan cemas.

Munch memanglah seorang penyendiri. Banyak dari karya seninya berfokus pada penderitaan internalnya sendiri dan semacam rasa takut berada di sekitar orang lain. Pada tahun 1918, Flu Spanyol menjadi pandemi global pada saat itu. Dan karantina yang diterapkan tidak menjadi kendala sama sekali bagi Munch.

Dalam masa wabah ini, Munch melukiskan Self-Portrait with the Spanish Flu. Yang menggambarkan dirinya sedang duduk sendirian dengan raut wajah yang tampak sedih. Setelah itu, ia kembali melukis potret dirinya, Self-Portrait After the Spanish Flu, di mana ia tampak berpakaian bagus dan dalam kondisi yang jauh lebih baik.

4. Astronot Apollo 11 menjalani karantina

Salah satu pencapaian ilmiah terbesar abad ke-20 adalah ketika manusia mampu pergi ke bulan. Para astronot dikarantina selama tiga bulan sebelum diluncurkan ke sana dan dikarantina kembali sekitar dua minggu.

Para ilmuwan NASA mengira akan ada kemungkinan kecil para astronot dapat membawa semacam wabah bulan, yang mungkin berbahaya di Bumi. Terlebih lagi, NASA meminta mereka untuk mengenakan pakaian pelindung dan tetap menggunakannya sampai mereka bisa dibawa kembali ke markas besar NASA, di mana mereka diisolasi dan diperiksa, hingga ahli medis yakin 100 persen bahwa mereka tidak membawa sesuatu yang buruk bagi semua orang.

5. Mary Mallon menghabiskan hidupnya dalam karantina

Mary Mallon beremigrasi dari Irlandia ke Kota New York sekitar tahun 1884. Dia bekerja sebagai juru masak. Namun, Departemen Kesehatan Kota New York menyadari bahwa ia pembawa demam tifoid yang asimptomatik, dan menjangkiti orang-orang di sekitarnya, seperti yang dilansir dari PBS.

Tetapi Mary keras kepala dan masih bekerja sampai pejabat kota menangkapnya pada tahun 1907 untuk mencegah penyebaran penyakit. Mereka memberinya pilihan antara mengambil kantong empedunya (tempat kuman tifus berada) melalui operasi, atau melakukan karantina paksa. Mary pun memilih dikarantina dan diisolasi sampai tahun 1910, dengan syarat tidak boleh bekerja dalam bidang makanan lagi.

Namun, karena membutuhkan uang tambahan, Mallon kembali menjadi juru masak beberapa tahun kemudian. Ketika kasus demam tifoid melonjak lagi, pihak berwenang langsung mencurigai Mary dan menangkapnya lagi pada tahun 1915. Kali ini, mereka tidak memberinya pilihan. Dia dikarantina di North Brother Island di lepas pantai New York City selama sisa hidupnya.

6. Mary Shelley menciptakan novel seram dalam masa isolasinya

Pada bulan Mei 1816, dunia menjadi tempat yang gelap. Pasalnya, di tahun 1815, gunung Tambora di Indonesia mengalami salah satu letusan gunung berapi paling mematikan dalam sejarah. Akibatnya, tidak saja menewaskan banyak orang di tempat terdampak, debu dan abunya juga mencemari udara di beberapa negara, salah satunya di Inggris, yang juga mengakibatkan cuaca dingin dan krisis pangan. Kondisi itu memperparah epidemi kolera yang mulai menjangkiti dunia, seperti yang dijelaskan History.

Mary Shelley dan suami barunya, Percy Bysse Shelley, memutuskan untuk mengungsi bersama dengan saudara tiri Mary, Claire Clairmont, dan dokter Percy, John Polidori. Mereka pergi ke Danau Jenewa di Swiss. Di sana, mereka bertemu dengan sesama penulis Lord Byron. Namun di Swiss juga tidak lebih baik, karena cuaca buruk dan penyakit membuat mereka bertahan di dalam rumah sewaan.

Mereka menghabiskan waktu dengan membaca cerita-cerita horor, dan akhirnya memutuskan untuk menulis kisah mereka sendiri. Novel Mary Shelley yang berjudul Frankenstein, tercipta dari perjalanan tersebut. Buku itu akhirnya menjadi pengaruh besar pada horor, sci-fi, dan sastra secara keseluruhan. Terlebih lagi, novel Dr. Polidori "The Vampyre" juga diciptakan di Danau Jenewa.

7. Giovanni Boccaccio menciptakan karya tulis The Decameron di tengah wabah Black Death

Black Death (Kematian Hitam) diperkirakan telah menewaskan sekitar seperempat dari orang Eropa. Itu adalah salah satu epidemi paling mematikan yang mengancam umat manusia, dan banyak penulis yang hidup pada masa itu, memberi kita banyak sumber tentang penyakit ini. Salah satunya, The Decameron, yang dianggap sebagai salah satu karya tulis terhebat dan terbesar di masa wabah Black Death.

Ditulis oleh Giovanni Boccaccio, buku ini dibuat di Florence selama wabah Black Death dan berisi 100 cerita - 10 cerita masing-masing diceritakan lebih dari 100 hari. Boccaccio menggambarkan banyak orang yang mati di jalanan, menurut The New Yorker, premis buku ini jelas berdasarkan pengalaman Boccaccio selama wabah Black Death. Boccaccio kemungkinan mengisolasi dirinya dari penyakit tersebut, seperti kebanyakan orang yang selamat.